Jumat, 09 Agustus 2019

Bintang

Hai bintang.

Malam ini kamu kok sendirian diantara bentangnya semesta?
Kalau boleh tahu teman-temanmu yang lain mana?
Biasanya kalian berkelap-kelip bersama, tapi malam ini kenapa hanya kamu?
Kamu tidak apa-apa kan? Dari kejauhan kamu terlihat cantik, tapi kamu berkedip terlalu cepat dari biasanya.
Aku sebenarnya ingin menggapai dan memelukmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Tapi, kamu tahu kan. Aku tidak mampu untuk melakukan hal itu. Aku di planet yang bernama Bumi. Jauh sekali dari tempatmu, mungkin saja berjuta-juta mil jaraknya.
Bintang, aku harap kamu baik-baik saja ya. Jangan sedih, karena hanya kamu satu-satunya penghiburku saat petang datang.
Bintang, di tempatmu sana asyik atau tidak? Aku dengar-dengar di sana tidak ada gravitasi ya, semua benda melayang-layang bebas tak tentu arah. Pasti seru ya, bisa terbang layaknya burung hehe.
Dan juga aku pernah dengar bahwa bintang yang aku lihat malam ini sebetulnya bintang yang besinar dari hari yang lalu, bulan yang lalu, atau bahkan mungkin dari tahun lalu. Karena katanya rambat cahaya bintang juga butuh waktu untuk mencapai planetku ini. Jika memang benar begitu, berarti kamu adalah bintang dari masa lalu ya? Jika iya, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kamu masih tetap bersinar untuk aku lihat di kemudian hari? Semoga kamu benar-benar baik-baik saja ya.
Oh iya bintang, aku boleh tidak sedikit berbagi cerita kepadamu. Tenang, tidak perlu diberi solusi, dengarkan saja ya. Walau jarak kita jauh, semoga kamu tetap mendengarnya.
Di tempatku ini ada sebuah rasa yang dinamakan cinta. Ia hanya memiliki nama tapi tak memiliki rupa. Ia hanyalah sebuah rasa yang mampu singgah pada siapa saja. Cinta memiliki kekuatan untuk menjadikan seseorang bersemangat, cinta juga memiliki kelemahan untuk menjadi seseorang terpuruk dalam kesedihan. Selama aku hidup, aku sudah merasakan keduanya.
Kata orang sih, jika memang berani jatuh cinta, ya harus berani menanggung risiko perihnya patah.
Aku pernah jatuh pada seorang wanita yang jauh dari kata sempurna. Namun, aku yakin Ia sosok yang selama ini aku cari-cari. Ia memiliki kulit kuning langsap, hidung mancung, bola mata berbinar dengan campuran sedikit air mata, bulu mata hadap atas, rambut hitam memanjang. Tingkahnya yang kadang lucu, kadang cuek, kadang mengesalkan, membuatku semakin jatuh pada palung yang begitu dalam, yang semakin aku menyelam semakin aku menemukan keindahan di dalamnya.
Aku pernah dibuat begitu bahagia olehnya. Tapi aku juga pernah dibuat begitu patah olehnya. Bagaimana tidak? Ia pandai sekali bersilat lidah. Bagaimana tidak? Ia pandai sekali untuk menutupi sesuatu yang jelas sudah ku tahu. Bagaimana tidak? Aku melihatnya berpaling dariku tepat di hadapanku.
Bintang, andai kamu tahu apa yang aku rasa pada waktu itu, sungguh aku tidak mampu mengucap satu kata pun. Sakit, hanya begitu yang aku rasa, sakit, di dalam hatiku. Sakit melihatnya tertawa bahagia bukan denganku.
Sebenarnya aku salah apa hingga Tuhan menghukumku seperti ini? Kamu tahu tidak bintang?
Sampaikan pada Tuhan ya, aku minta maaf bila ada yang salah. Sampaikan pada-Nya bahwa aku ingin bahagia dengannya. Sampaikan pada-Nya agar ia mau berubah dan menetap untuk selamanya. Arahkan navigasi hatinya untuk selalu berlabuh padaku. Aku mohon, bintang, bantu aku. Aku begitu menyayanginya, bahkan marahpun aku tidak pernah, sekali pun berkata kasar tidak pernah juga. Karena ia begitu istimewa.
Btw, ini udah tengah malam. Aku lihat kamu sudah tidak ada, tertelan gelapnya awan. Yaudah dilanjut besok saja ya bintang. Aku juga mau tidur. Selamat malam.

Share:

Selasa, 13 November 2018

Seorang Diri

Hari mulai gelap, pertanda rasa rindu mulai merasa. Merasuk ke sela-sela jiwa, yang aku pun tak tahu cara menghentikannya. Kala itu, langkahku terus melaju, menerpa hawa yang mendinginkan raga. Menyusuri gelapnya malam, mengendap-endap layaknya orang berperang.

Malam itu aku duduk seorang diri, ya hanya seorang diri. Tanpa teman, sahabat, ataupun kekasih. Hanya keramaian lalu lalang orang yang menghiasi pandangan dan pendengaranku. Perlahan bising kota meredup, diganti angin malam yang membuat semua orang tertidur dalam senyap. "Terlalu dini untuk meng-istirahatkan diri", ujarku. Aku masih ingin menikmati langit hitam yang diguyur rintik hujan, sengaja ku biarkan air membasahi tubuh, aku hanya ingin menikmatinya, seraya bersyukur dan merenung bahwa aku hanyalah seorang hamba dari Sang Maha Penyayang.

Tahun ini genap 20 tahun aku hidup. Aku selalu punya mimpi untuk menjadi orang paling bahagia  di muka bumi, memiliki jiwa muda yang selalu menginspirasi, hingga nanti aku bertemu wanita yang mampu mengangkat mimpi-mimpi yang tertanam dalam diri.

Kau tahu? Malam hari mungkin waktu yang tepat untuk mengingat masa lalu. Bukan, bukan karena aku ingin mengulang, tapi aku hanya ingin belajar. Bukankah hidup terlalu singkat jika hanya untuk meratapi? Aku pun tak ingin terbawa arus bayanganmu. Aku selalu percaya bahwa perjuangan itu tak ada yang sia-sia. Aku selalu meyakinkan diri bahwa tak perlu ada yang disesali. Setidaknya aku pernah berjuang, walau akhirnya dikecewakan. Hidupku harus terus berlanjut, tanpa atau dengan dirimu.


Rintik hujan semakin deras menghujam pikiranku, perlahan ku tengadahkan kepala menghadap lautan hitam di atas sana, aku pun tersenyum. "Terima kasih Tuhan, jaga baik-baik hatinya. Aku yakin, aksaramu jauh lebih mulia daripada anganku.  Semoga lara akan jadi bahagia."

Seorang diri itu cukup menyenangkan.  Seorang diri itu cukup menenangkan. Apalagi di kota kembang yang menjadi pijakanku saat ini. Terima kasih, lain waktu aku akan kembali untuk bernostalgia, tapi ingat, ketika aku kembali aku tidak akan lagi sendiri, mungkin nanti aku akan membawa dirinya - entah siapa - untuk ku perkenalkan pada keindahan dan keramahan kotamu.
Terima kasih juga untuk kamu yang hadir dalam pikiranku. Tetap semangat menggapai cita-cita. Sekali lagi, terima kasih telah mewarnai aksaraku.
Share:

Kamis, 23 Agustus 2018

Jatuh

Aku masih duduk dengan kertas putih dan bolpoin hitam yang tergenggam. Mengabdi pada satu cerita. Belum lugas sampai kita bisa melanjutkan tulisan bersama.


JATUH - Orang awam mendefinisikan jatuh sebagai sebuah kegagalan, namun tidak denganku. Jatuh adalah sebuah permulaan, dan sebuah perjuangan. Bagaimana aku memulainya, dan bagaimana aku memperjuangkannya. Dan jatuh merupakan sebuah proses, dimana tokoh aku akan siap menerima semua risiko dari hal itu.

Mari aku ceritakan padamu tentang seseorang yang membuatku tertahan dalam waktu.
Hari itu adalah hari dimana aku pertama kali bertemu dengannya, dengan mata yang sedikit lelap, kucoba untuk memperkenalkan diri di hadapannya. "Ilman", ucapku. Sembari melihat senyum tipisnya, aku merasakan kelembutan tangan itu, haha. Tak tahu kenapa, mulai saat itu hariku berubah, aku rasa ada yang tidak biasa. Mudah dimengerti, namun sangat sulit untuk menelisik arti.
Wahai Sang pemilik hati, ijinkanlah aksaraku untuk mendeskripsikannya lebih dalam. Karena hanya dengan aksara, aku mampu mengungkap sebuah rasa.

Ana - begitulah aku menyebut dirinya - gadis asal pulau ternama di sisi barat peta khatulistiwa, yang memperadukan nasibnya ke Pulau Jawa. Dia cantik, ditambah rambut lurus dan gaya nyentriknya membuatku semakin terpesona. Aku suka dengan daya pikirnya, terbilang lambat iya, tapi keluar dari itu sungguh menarik, bahkan rumus algoritma tentang asmara pun mampu diurainya.
Caraku mengenalnya terbilang unik, yaitu dengan mengenalkan ia akan keindahan negeri ini, yang selalu memiliki cerita klasik ketika dikunjungi. Dengan begitu aku mudah tahu, karena aku percaya bahwa alam akan membantuku untuk mengejakan setiap arti dalam dirinya.

Sejenak berasumsi, aku rasa kali ini sesuai ekspektasi, mungkin dia orangnya. Sifat humble dan pengorbanannya terhadap teman adalah yang selama ini kucari. Menurutku, seorang manusia akan dikenal baik dan akan selalu dibutuhkan ketika memiliki dua sifat itu. Dia akan selalu dirindu oleh siapapun dan kapanpun.

Dan satu lagi, senyumnya mampu menghadirkan suasana sejuk dalam tidurku.


Asal kau tahu, aku bukanlah orang yang mudah jatuh pada sebuah kubangan asmara, dan aku bukanlah orang yang mudah percaya pada sebuah pernyataan rasa, aku lebih percaya pada sikap dan usaha yang menunjukkan bahwa itu benar-benar renjana. Aku selalu berusaha menghargai waktu ketika ada orang baru di hidupku, kenapa? Karena aku tak tahu esok atau lusa ia bisa menemaniku lagi atau tidak, maka darinya aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan canda tawa dari suasana itu.
Aku memang orang yang suka melihat dunia dari sisi yang berbeda. Aku mengenalnya bukan dari kacamata cinta, tapi aku mengenalnya dari hati yang terbungkus suci. Bukan rasa kagum yang membuatku suka padanya, tetapi hanya dengan melihatnya tertawa aku sudah merasakan makna bahagia.

Jatuh adalah sebuah permulaan. Dan semua bermula ketika aku jatuh hati padanya.
Jatuh adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan cintanya.
Share:

Sabtu, 28 Juli 2018

Sebuah Nama Sejuta Cerita

BROMO - Sebuah nama, untuk sejuta cerita. Kamu, dia, dan semesta bersenandung seraya romansa bumi ada pada kita. Dan untuk kesekian kalinya, alam tak pernah mengecewakan. Ia menyatukan bilangan-bilangan yang tak senada. Merubah itu semua dengan canda tawa gila.
Lembaran foto yang ku punya menjadi bukti bahwa Tuhan memang ada, Ia menabur cinta pada hari itu. Cinta yang membawa kebahagiaan untuk dikenang, untuk diceritakan, atau untuk dipendam.


Awal kan berakhir, terbit kan tenggelam. Sajak aksara untuk kita yang mungkin tak siap untuk merindu. Atau lebih baik jangan merindu, karena kata Dilan itu berat, hehe. Namun, menurutku yang berat bukanlah rindu, tetapi menahan apa yang dirasa.
Pertemuan aku, kamu, dan kita ialah anugerah. Maka dari itu, aksaraku akan mencatatnya dengan indah, agar dunia tahu, bahwa aku pernah bahagia.

Describes about you,
  1. Afif
    Sahabatku yang selalu mengingatkan bahwa kehidupan hanyalah sesaat. Tak ada yang lebih indah dari dunia akhirat. Seseorang yang mampu menghidupkan suasana dengan canda dan tingkahnya, entah dari mana dia mendapat ide kekanakan itu, atau mungkin memang masa kecilnya kurang bahagia, hahaha.

  2. Mas Pur
    Sahabatku yang lihai dalam segala permainan, sekalipun itu permainan kehidupan hahaha. Seseorang yang mengajarkan bahwa pria harus tegas ketika menyangkut hati seorang wanita.

  3. Nisma
    Nada suara melencing khas orang Medan. Tak sesuai dengan pengamatan awalku yang mengira ia adalah orang yang lugu. Aku rasa logat orang Medan dengan orang Jombang hampir sama, keduanya suka nge-gas kalau bicara hahaha.

  4. Alma
    Geulis pisan euy hahaha. Aku suka dengan logat cewek sunda ketika berbicara, entah kenapa nadanya sungguh menarik untuk didengar. Pula kemampuan fotografi yang apik membuatnya terlihat epic.

  5. Elok
    Bertubuh mungil bersuara lantang. Seorang periang yang kulihat tak pernah bersedih dalam hidupnya. Atau mungkin aku yang tak tahu alur hidupnya? haha bisa jadi, karena ia suka mendengarkan cerita daripada bercerita.

  6. Bella
    Wajahnya cukup untuk menggambarkan bahwa pulau Bangka memang cantik nan indah. Aku suka senyumnya, karena bagiku senyum adalah cara paling sederhana untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama.

  7. Ilman
    Can you describe about me? hehe
Selalu ada keindahan dibalik rintangan, selalu ada cinta dibalik sebuah cerita, dan selalu ada rindu dibalik senyummu. Terima kasih telah mewarnai aksaraku. [ilman]


jangan menua tanpa cerita
jangan pergi tanpa pesan
jangan kembali tanpa rindu
Share:

Minggu, 01 Oktober 2017

Bahagia

Kau wanita terhebat bagiku. Dari terbit hingga senja, kau terus memikirkanku. Maafkan, aku berkali-kali melukaimu. Maafkan, aku terlalu larut pada dunia hingga lupa tak menanyakan kabarmu.
Terkadang aku memikirkanmu, hingga mataku berkaca-kaca. Mengingat masa-masa itu, dimana kau selalu merinduku, menangis, seakan kau ingin memelukku.
Kau wanita terhebat bagiku. Kau bagai melodi, suaramu terngiang merdu, membuatku tak ingin kehilanganmu di hari-hariku. Namun, kini jarak membuatmu jauh dariku.
Kau tahu? waktu dulu, wajahmu membuatku senang ketika aku terbangun dari tidurku. Namun, sekarang, jarak membuatnya berbeda, bahkan aku hanya bisa memandangimu dari jauh, dari foto hitam-putih yang penuh arti.
Percayalah, kaulah rinduku. Kaulah segalanya bagiku. Kaulah bidadariku.
Percayalah, kisah cinta kita tak akan pernah berhenti walau waktu terhenti.
Disini, aku selalu semangat, semangat karena janji-janjiku kepadamu. Bukankah aku pernah berjanji untuk membahagiakanmu?
Aku BAHAGIA, karena kau adalah bagian dari hidupku. Kuharap, kau selalu semangat menjalani hari-harimu. Untukmu, Ibu.
Share:

Kamis, 13 Oktober 2016

3 Warna

Pantai 3 Warna - Malang
Sahabat – mereka yang selalu menemani dalam keadaan duka maupun suka, yang menghiasi hari-hari ku dengan canda tawa, 3 warna yang akan ku bawa sampai ujung dunia. Tuhan memang Maha Adil, menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku, adalah salah satu makhuknya. Kekurangan yang kumiliki, sangat ku syukuri, karena Tuhan telah mengirimkan sahabat yang dapat melengkapi.
Tiga tahun lalu, di Kota Santri, di sebuah bangunan sekolah yang tak begitu mewah dan tak juga begitu tua – pas-pasan Di bawah naungan sebuah organisasi, terikat panji-panji mengabdi, kutemukan mereka. Satu, dua, tiga, itulah simbol persahabatan kita. Yang mungkin sampai saat ini aku pun tak tahu arti-nya.
Entah kenapa, setiap waktu yang kujalani bersama mereka terasa begitu cepat, terasa begitu indah, terasa begitu sempurna. Ada sebuah rasa di dalam hati, mungkin itu cinta. Ya, aku memang mengartikannya itu cinta. Menurutku, cinta tak harus diberikan kepada seorang wanita, tapi bisa kepada siapa saja. Karena dengan cinta, hidup kita akan lebih berwarna.
Dulu, aku pernah berjanji. Persahabatan ini tidak akan berhenti begitu saja, tidak akan pernah ku biarkan persahabatan ini menjadi persahabatan kilat. Persahabatan ini akan tetap utuh, hingga kelak kita tua, hingga nanti kita berkumpul untuk bercerita kepada anak-cucu kita, hahaha.
Hingga saat ini, kita tetap satu. Walaupun jarak memisahkan, namun cinta yang kita miliki tak akan padam. Dia akan terus membara, hingga akhir hayat. Karena kita satu, bukan satu-satu.

Utuhkanlah persahabatanmu, lebih-lebih jika persahabatan itu akan menolongmu di akhirat nanti.

Ours

Pantai Batu Bekung - Malang
Ranukumbolo - Semeru Mt.
Penanggungan Mt. - Mojokerto
Surabaya
Jawa Timur Park - Malang
Wisuda SMA

Share: